Jumat, 09 Desember 2011

Tugas Take Home 2

  
KAJIAN DRAMA INDONESIA NASKAH SUMUR TANPA DASAR SECARA PSIKOANALISIS 

Oleh :
Vivie Elvira Sunaryo


ABSTRAK. suatu susunan sistem psikofisik (psikis dan fisik yang berpadu dan saling berinteraksi dalam mengarahkan tingkah laku) yang kompleks dan dinamis dalam diri seorang individu, yang menentukan penyesuaian diri individu tersebut terhadap lingkungannya, sehingga akan tampak tingkah lakunya yang unik dan berbeda dengan orang lain.
KATA KUNCI : kekhawatiran, prinsip, dan absurd

PENDAHULUAN

      Kepribadian (personality) merupakan salah satu kajian psikologi yang lahir berdasarkan pemikiran, kajian atau temuan-temuan (hasil praktik penanganan kasus) para ahli. Objek kajian kepribadian adalah “human behavior”, perilaku manusia, yang pembahasannya terkait dengan apa, mengapa, dan bagaimana perilaku tersebut. Teori kepribadian diartikan sebagai (a) Sekumpulan atau seperangkat asumsi (dugaan, perkiraan, atau anggapan) yang relevan, dan secara sistematis saling berkaitan : (b) hipotesis atau spekulasi tentang kenyataan (realitas) yang belum diketahui kebenarannya secara pasti, sebelum diverifikasi melalui pengujian dan kenyataan, dan (c) sekumpulan asumsi tentang keterkaitan antara peristiwa-peristiwa empiris (fenomena).
 
1.   Makalah ini disusun sebagai salah satu persyaratan akademik dalam menempuh perkuliahan dan kelulusan mata kuliah Kajian Drama Indonesia yang diampun oleh Rudi Adi Nugroho.
2.   Penulis adalah mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Sarjana UPI 2011 dengan NIM. 1002630

            Teori berfungsi sebagai mengarahkan perhatian, atau arahan penelitian, dalam arti membantu penentu fakta-fakta mana yang relevan bagi satu penelitian lalu merangkum pengetahuan dalam bentuk generalisasi, atau prinsip-prinsip sehingga dapat memfasilitasi (mempermudah) pemahaman tentang fenomena yang kompleks dan memprediksi atau meramalkan fakta, peristiwa yang akan datang dengan mempelajari kondisi atau fenomena yang berkaitan.
            Membahas kepribadian  bukanlah sesuatu yang mudah, terutama karena konsep kepribadian telah diartikan bermacam-macam. Di dalam psikologi, ada yang dibahas dalam teori kepribadian sangat bervariasi dan tergantung dari aliran yang dianut oleh si penulis. J. Feist dan G.J Feist (1998) mendefinisikan kepribadian seseorang dinilai dari keefektifan yang memungkinkan seseorang sanggup memperoleh reaksi positif dari berbagai orang dalam berbagai macam-macam keadaan. Menimbulkan kesan yang menonjol dan yang terbaik pada orang lain merupakan kesanggupan sosial, ketangkasan, dan kecekatan seseorang.
            Seseorang dapat dikatakan sangat optimis atau sangat pengecut. Ketika orang menilai atau melihat, maka ia memilih suatu sifat atau kualitas yang khas. Pemilihan ini berbeda dengan yang lainnya bagi subjek dan merupakan bagian penting dari kesan yang ditimbulkan pada orang lain. Batasan lain tentang kepribadian adalah kepribadian berasal dari kata “persona” yang berarti topeng. dengan demikian, arti asli dari kepribadian adalah wajah palsu atau topeng dalam sandiwara yang dapat dikatakan sebagai front, wajah bagus tetapi mengandung penipuan. Kemudian, person berarti pemain sandiwara. Individu  dengan kualitas tertentu dan berbeda. Oleh sebab itu dapat dirumuskan personalitas berarti watak seseorang yang sebenarnya dan bukan wajah yang palsu.
Sejak tahun 1897 di Leipzig, Wilhem Wundt untuk pertama kalinya mengajukan gagasan untuk ilmu faal. Ia mendirikan laboratorium sendiri dikota itu dengan khusus menyelidiki gejala-gejala psikologi. Karena objek material dari psikologi dalam definisi diatas adalah tingkah laku manusia unsur yang teramat penting dari ilmu ini adalah manusia itu sendiri. Usaha untuk mendefinisikan manusia mungkin sudah bisa dilakukan ketika orang bisa berpikir.
Sebagai mahkluk berakal sehat, manusia selalu ingin menggunakan akal sehatnya, tetapi ia selalu tidak bisa melakukannya. Sebagian mahkluk berakal sehat, manusia cenderung untuk selalu mencoba mengerti lingkungannya. Menurut S. Kaplan dan R. Kaplan , kecenderungan untuk selalu mengerti lingkungan ini adalah salah satu ciri manusia sebagai mahkluk berakal sehat.
Asumsi dasarnya adalah setiap tingkah laku merupakan perwujudan atau pencerminan dari keadaan kepribadian seseorang, sedangkan keadaan kepribadian itu dipengaruhi oleh riwayah hidup masa lalunya. Seorang yang agresif, misalnya, mungkin mempunyai riwayat hidup yang tidak menyenangkan semasa kecilnya atau seorang yang mempunyai hasrat berprestasi tinggi mungkin biasa mendapatkan penghargaan atas segala prestasi dari orang tuanya dari sejak ia duduk di sekolah dasar, walaupun prestasi itu hanya prestasi yang kecil saja. 
Dari penjelasan-penjelasan tentang kepribadian dan apa itu manusia kita bisa menelaahnya atau mengetahui kepribadian seseorang itu bermacam-macam tidak mungkin semua orang sama. Salah satunya bisa mengkaji sebuah naskah drama yang nantinya kita bisa menemukan karakter dan kepribadian dari tokoh dalam naskah. Drama adalah manusia yang berdialog atau bereaksi di depan mata kita. Adanya dialog yang terdapat dalam drama itu, yang mana kita bisa melihat atau menentukan karakter sifat atau perwatakan dari masing-masing tokoh. Seperti ada tokoh antagonis kita bisa melihatnya dari cara dia berbicara dengan nada menyentak atau di jelaskan dengan mata melotot, ada juga tokoh yang melankolis tergambar dari tuturan perkataanya.
Dalam naskah drama Arifin C. Noer yang berjudul Sumur Tanpa dasar ini dikaji dengan menggunakan kajian Psikologi. Dengan mengkaji salah satu tokohnya yaitu Jumena. Tokoh ini cukup menarik untuk dikaji secara psikologinya , karena tokoh ini berperan penting dalam jalannya cerita ini. Dia memiliki kepribadian-kepribadian yang sangat menonjol dari tokoh-tokoh yang lain . Dia selalu bergelut dengan pikiran-pikiran buruknya yang sebenarnya hanya kekhawatiran saja. Dia masih saja ragu dengan Tuhannya dan lebih mendominan menyelamatkan harta ketimbang dirinya sendiri.  walaupun memang ada juga tokoh-tokoh lain yang menarik untuk dikaji seperti tokoh Euis dan Juki. Banyak sekali konflik yang terjadi di dalam naskah ini seperti konflik dengan batin dan yang lainnya.

TEORI KAJIAN

       Pada dasarnya banyak teori telah dikembangkan dalam mengenal kepribadian. Dari sekian banyak teori yang telah banyak memberi konstribusi dalam pengembangan ilmu psikologi, terdapat teori yang mengemukakan adanya lima bentuk tipe kepribadian yang dikembangkan oleh McCrae dan Costa yang dikenal dengan big five personality dalam Timothy (2000).

1.      1. Neuroticism
Disebut dengan istilah negative emotionality. Tipe kepribadian ini bersifat kontradiktif dari hal yang menyangkut kestabilan emosi dan identik dengan segala bentuk emosi yang negatif, seperti munculnya perasaan cemas, sedih, tegang dan gugup (Timothy, 2000). McCrae dan Costa (2001) menggolongkan tipe ini pada dua karakteristik. Individu dengan tingkat neuritis tinggi disebut kelompok reactive (N+) dan bagian kelompok yang neuritis rendah disebut kelompok resilient (N-).
Pada individu yang resilient, mereka memiliki kekhawatiran yang rendah dan ditunjukan pada sikapnya yang cenderung tenang dalam menyikapi segala sesuatu yang bersifat mengkhawatirkan baginya. Mereka tidak mudah marah, maupun menangani stressor yang ia hadapi dan optimis. Terkesan lebih percaya diri serta mampu mengendalikan dorongan terhadap suatu keinginan yang mereka miliki.
Pada orang reactive akan menunjukan sikap yang terlalu khawatir dan sulit sekali baginya bersikap tenang terutama ketika dihadapkan suatu stimulus yang dipandang sangat mengkhawatirkan. Individu reactive akan menunjukan sikap dan prilaku yang mudah marah, mudah putus asa, dan pemalu. Bila terluka perasaanya, individu reactive akan tampak sulit menyesuaikan diri terhadap keadaaan yang membuatnya luka.

2.    2.   Extrover
            Pada pribadi extrovert akan ditunjukan melalui sikapnya yang hangat, ramah, penuh kasih sayang, serta selalu menunjukan keakraban terutama pada orang yang ia kenal. Mereka kerap memiliki keterkaitan yang tinggi dalam bergaul dan untuk bergabung dalam kelompok-kelompok sosial. Mereka selalu menunjukan sikap yang aktif terhadap perubahan keadaan dan selalu membutuhkan suasana yang mampu membuatnya gembira sehingga sikapnya cenderung periang terutrama dalam mengapresiasikan emosi mereka.
Tipe teori kepribadian introvert ditunjukan melalui rendahnya kemampuan individu dalam menjalani hubungan dengan lingkungan sosial mereka. Hal ini dapat dilihat melalui batasnya hubungan mereka dengan lingkungan disekitarnya. Sikap dan prilaku mereka cenderung formal, pendiam, dan tidak ramah. Dalam mengapresiasikan emosi pada kondisi yang bahagiapun ia akan tampak tenang dan menunjukan ekspresi yang datar dan tidak berlebihan. Mereka jarang menunjukan keterkaitan pada aktivitas-aktivitas yang melibatkan kelompok dalam lingkungan sosial. Orang introvert memiliki sikap cenderung menyerah pada keadaan dan tinggal dalam mengikuti perkembangan keadaan. Introvert selalu dipengaruhi dunia subjektif, yaitu dunia dalam dirinya sendiri. Orientasi utama lebih tertuju kedalam, yakni pada pikiran, perasaan, dan tindakan-tindakan yang terutama ditentuka oleh faktor-faktor subjektif.
  
3.    3.   Agreebleness
Tipe kepribadian ini menurut Timothy (2000), mengidentifikasinya dengan perilaku  prososial yang mana termasuk di dalamnya adalah perilaku yang selalu berorientasi pada altruism, rendah hati, dan kesabaran. Di golongkan menjadi dua yaitu adapter dan challenger.
Pada individu adapter akan selalu memandang individu lain sebagai orang yang jujur dan memiliki iktikad baik terhadapnya. Mereka selalu berterus terang terhadap lingkungan sekitarnya dan selalu berusaha mendahulukan kepentingan orang lain diatas kepentingan diri sendiri. Pada pribadi ini cenderung memiliki kemauaan yang besar dalam memberikan pertolongan pada orang lain dan tulus dalam melakukannya.
Sebaliknya, pada tipe challenger ia akan selalu memandang orang lain dengan perasaan ragu-ragu, curiga, dan cenderung sinis. Rendahnya sikap altruisme yang ia miliki menyebabkan mereka enggan melakukan sesuatu untuk orang lain dan memandangnya sebagai hal yang berbelit-belit. Sikapnya selalu hati-hati dalam memandang orang lain dan cenderung berlebihan dalam memahami kebenaran. Mereka cenderung tinggi hati dan merasa memiliki banyak kelebihan dibandingkan orang lain. Individu challenger memiliki sifat keras kepala dan lebih rasional dalam segala tindakannya.

4.      4. Conscientinousness
Tipe kepribadian ini untuk mengidentifikasikan sejauh mana individu memiliki sikap yang berhati-hati dalam mencapai suatu tujuan tertentu yang termanifestasikan dalam sikap dan prilaku mereka.
Fleksibel person ditunjukan melalui sikap individu yang selalu merasa tidak siap dalam segala hal. Dalam merespon perintah, fleksibel person akan cenderung menjalankan segala perintah yang ia terima secara tidak teratur, tidak terorganisasi dengan baik, dan tanpa metode yang jelas. Semua ini dapat diketahui melalui sikap dan perilakunya yang cenderung sembarangan dalam menjalankan kewajiban. Mereka memiliki kebiasaan untuk menunda-nunda pekerjaan serta sering menunjukan kekacauan atau kebingungan dalam menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya.
Sebalikanya, pada focused person cenderung menampakan sikap merasa mampu dalam melakukan segala sesuatu secara efektif. Mereka cenderung lebih rapih dan teratur sebagai bentuk perilaku yang selalu terorganisasi dengan baik. Focused person lebih berhati-hati dalam menyelesaikan segala kewajiban yang dibebankan kepadanya dan dapat dipercaya serta dapat terkendali dalam menjalankan kewajiban guna mencapai kesuksesan yang diharapkan. Mereka lebih banyak memfokuskan segala tindakannya pada penyelesaian tugas secara keseluruhan. Ketika melakukan pertimbangan mereka selalu berpikir lebih mendalam dan hati-hati sebelum mengambil suatu keputusan. Tipe kepribadian ini lebih kerap diaplikasikan pada individu dalam lingkungan sosialnya terutama menyangkut pada performansi mereka dalam dunia kerja yang menyangkut sejauh mana suatu individu itu memiliki kebutuhan berprestasi, beranggung jawab, dan memiliki kesungguhan hati serta kerja keras dalam mengekspresikan sikap diri dalam suatu organisasi.

5.   5Openness Experience
McCrae dan Costa (2000) menjelaskan bahwa individu preserver akan cenderung lebih berfokus pada hal-hal yang sedang terjadi saat ini saja (here ana now). Mereka tidak memiliki keterkaitan pada hal-hal yang menyengkut seni sebagai bentuk nilai estetika. Preserver lebih sering mengabaikan hal-hal yang menyangkut perasaan yang tindakannya lebih tertarik pada hal yang telah dikenalnya secara akrab saja. Mereka memiliki keterbatasan ide dibandingkan explorer dan bersifat kaku dalam memandang nilai-nila kehidupan.
Explorer akan menunjukan sikap yang imajinatif dan suka beangan-angan. Mereka lebih banyak melibatkan perasaan dan emosi yang mendalam, dalam menilai segala hal dan memiliki keterkaitan pada hal yang bersifat beragam dan condong untuk selalu mencoba hal yang dianggap baru. Ide yang mereka miliki lebih luas serta tidak jarang mengacu pada orang lain yang dianggapnya lebih pandai. Pada umumnya, individu eksplorer memiliki kemauan yang tinggi untuk menciptakan minat yang lebih luas terhadap segala aspek kehidupaan.

PEMBAHASAN

1.     Jumena itu adalah orang yang tergolong kedalam orang reactive. Reactive disini adalah dia seorang yang memiliki sifat pemikir berat atas suatu hal, dia selalu memikirkan hal yang seharusnya tidak perlu selalu dia khawatirkan. Dikuasai oleh asumsi-asumsi buruk yang selalu menenggelamkan dirinya. Dia memiliki hasrat kehilangan yang tinggi. Hidupnya tidak pernah tenang banyak prasangka-prasangka buruk dan khayalan-khayalan negatif yang ada dalam pikirannya. Hal yang paling menonjol adalah dia selalu memikirkan kematian.
Kutipan :
Saya tidak mau kecurian. Saya tidak mau mati dalam keadaan gelap seperti ini. Selain itu saya tidak bisa membedakan apakah saya masih hidup atau tidak dalam kegelapan yang keparat ini. Saya hamper tidak bisa bernafas. Kegelapan seperti emnyumbat hidung dan mulut saya dengan kain lakan hitam yang bau. Oh, kalau saja kegelapan ini berdaging akan saya tembak dahinya. “ (Jumena) halaman 55
Terlihat jelas sekali dari kutipan itu, Jumena memang dikuasai oleh ketakutan-ketakutan yang dia buat sendiri dalam otaknya, kematian merupakan masalah yang selalu mengganggunya, dia takut mati karena dia takut semua harta yang dia punya akan di kuasai oleh orang lain. Kekhawatiran itu ditambah lagi semasa dia hidup berkeluarga bersama Euis yaitu istri ke empatnya masih saja belum memiliki keturunan yaitu seorang anak. Pada orang reactive dia akan menunjukan sikap yang terlalu khawatir dan sulit sekali bersikap tenang ketika dihadapkan suatu stimulus yang dipandang sangat mengkhawatirkan. Dari kekhawatiran ini munculan sifat mudah marah pada diri Jumena. Karena jumena selalu memiliki prasangka buruk dan ketidak percayaanya pada orang di sekitarnya jadi dia lebih mempercayai pikiran-pikiran dia sendiri. Hal ini yang menimbulkan sifat mudah marah kepada orang yang sebenarnya ingin membatu dia atau bahkan memberikan perhatian.

2.      Tipe teori kepribadian introvert ditunjukan melalui rendahnya kemampuan individu dalam menjalani hubungan dengan lingkungan sosial mereka. Hal ini dapat dilihat melalui batasnya hubungan mereka dengan lingkungan disekitarnya. Di dalam naskah ini ada sikap yang ada dalam diri Jumena yaitu dia orang yang cenderung formal kurang bisa berbaur dengan orang-orang disekitarnya dan ini juga yang menimbulkan sikap tidak ramah. Hal yang membuat dia seperti ini adalah, Jumena orang yang sangat memegang teguh prinsip yang dia punya, dimana prinsip itu sama sekali tidak bisa berubah. Sebagaimanapun seseorang meminta tolong kepadanya, dia tidak akan merubah prinsip yang sudah dia pegang kuat. Introvert selalu dipengaruhi dunia subjektif, yaitu dunia yang ada dalam dirinya sendiri.
Ada sebuah dialog antara Jumena dan Sabarudin, diamana Jumena sudah berniat dan berjanji kalau dia akan membangun masjid dan membangun rumah gelandangan. Tetapi dia kembali berpikir bahwa gelandangan dan yang lainnya itu sama seperti Jumena yang bisa memiliki harta lebih, hanya saja mereka memiliki sifat malas yang membuat mereka menjadi seperti itu. Terlihat sekali Jumena memiliki pemikiran seperti itu, walaupun Sabaruddin sudah menasihati Jumena, tetap saja Jumena tidak akan merubah prinsipnya. Karena menurutnya ini hanya karena prinsip dia dan Sabaruddin yang bertentangan. Ada juga hal yang diperkuat yaitu sebuah dialog antara Jumena dan Emod. Jumena bisa dibilang termasuk orang yang sangat irit dan pelit sekali dalam hal uang. 
Kutipan :
“mau diapakan lagi? Saya tidak akan merobah keputusan saya. Saya tidak mau. Saya tetap tidak akan memberi biar segopengpun. Berapa kali sudah saya bilang sejak kalian jadi pegawai kedua bahwa standar gaji yang ada sekarang cukup baik, adil untuk semua pihak. Prinsip saya cukup realistis karena berdasarkan kebutuhan rill tiap-tiap keluarga. Lagipula saya sudah menghitung dengan cermat berapa setiap keluarga menghabiskan biaya setiap bulan dan berapa sisa yang bisa ditabung.” (Jumena) halaman 15

“Maaf gan, tapi saya kira kebiasaan orang lain. Juga sifat orang, maksud saya mungkin saja gaji yang diterima seseorang cukup besar tapi bukan tidak mungkin ada saja orang yang menganggapnya masih kurang.” (Emond) halaman 15
3.      Jumena juga masuk kedalam tipe challenger. Karena Jumena orang yang selalu memikirkan hal secara berbelit-belit, dengan dia ingin melakukan sesuatu untuk orang lain saja dia harus berpikir berulang kali, apakah yang akan dia kerjakan akan membuat dia bahagia atau hanya membuat orang lain bahagia saja tetapi dia sendiri tidak. Ada sebuah kutipan percakapan Jumena dan Sabaruddin :
“ Saya bilang sejak awal bawa semua rencana itu saya kira mungkin akan menyenangkan saya, tetapi kemudian setelah saya mengeluarkan uang untuk ini dan itu, saya tersadar dan segera saya pastikan bahwa semua itu tidak akan menyenangkan say. Saya lihat kau memang bahagia, tetapi saya tidak dapat hidup bahagia bersama kau. Dengan demikian tentu saja tidak ada gunanya sedikitpun buat saya.” (Jumena) halaman 40
Jumena juga orang yang sangat curigaan, sehingga pikiran dia dikuasai oleh curiga dan curiga. Ada hal yang memperkuat bahwa dia memang orang yang mudah curiga yaitu, dia curiga kepada istrinya sendiri Euis, kalau Euis selama ini hanya menginginkan harta Jumena. Padahal niat awal Euis hanya ingin bertanya dan tidak menjurus ke hal itu, tetapi Jumena dengan cekatnya berpikir seperti itu. Kutipan dialog Euis dan Jumena :
“Ingatlah, geulis ! kau kukawini bukan untuk memindahlan hak hartaku. Sekarang kau bertanya persis seperti yang telah ditanyakan oleh ketiga istriku yang dulu. Tidak! Tidak! Kau kira dengan kedudukanmu sebagai istriku kau bisa merebut hartaku? Hartaku yang telah kukumpulkan dengan seluruh keringatku yang sekarang sudah hamper kering ini? Semua perempuan mata duitan !” (Jumena) halaman 61
Kecurigaan banyak sekali dalam diri Jumena, dia juga curiga kepada Juki. Dia berpikir kalau Juki itu menginginkan Euis istri Jumena. Hampir semua orang yang berpendapat, atau menjelsakan sesuatu kepada Jumena selalu dianggap salah olehnya. Dia lebih mengikuti apa yang menurut dia benar tanpa memikirkan orang lain. Lalu dia juga memiliki titik kejenuhan, dimana dia bingung harus berbuat apa ketika dia sudah mencapai apa yang dia inginkan dalam hidup. Sikap skeptic atau ragu-ragu dan sombong muncul ketika dia sudah mencapai apa yang sudah dia miliki. 
4.      Jumena orang yang sudah memiliki semuanya termasuk harta yang sangat benar-benar ia jaga, dia seseorang yang mampu dalam melakukan segala sesuatu secara efektif. Dari masalalu yang dia alami, yaitu masalalu yang pahit. Dimana semua yang sudah dia dapatkan sekarang yaitu harta kekayaan itu dia dapati dari hasil kerja keras, kecermatan dan kerajinan yang dia tanamkan dalam dirinya demi merubah keadaan hidup yang lebih baik. Kutipan :
“ Ya, karena sekarang, saya kaya raya, tapi coba kalau saya tetap pengemis, tidak akan seperti dongeng, tapi seperti pemandangan buruk atau bahkan mimpi buruk. Suatu malam di teras sebuah toko Cirebon, tempat biasa saya tidur, seorang kawan bercerita bagaimana cina pemilik restoran yang gedungnya besar disebrang jalan, setindak demi setindak menjadi raya. Ia bercerita bagaimana cina itu pada mulanya hidup miskin.
Sebelum punya warung, cina itu bekerja sebagai kacung, katanya di sebuah restoran. Dan sejak itu dia sangat rajin dan cermat menabung, sehingga pada suatu saat uang tabungannya cukup untuk modal berjualan rokok. Semakin lama semakin cermat ia, sampai pada suatu hari ia membeli sebuah warung kecil. Seterusnya ia membuka warung nasi Lengkong sambil tetap berjualan rokok.
Dan jadilah ia tukang restoran terbesar di kota itu. Kalian tau apa yang saya pikirkan malam itu ?” (Jumena) halaman 42
“ Di balik sarung kumal, malam itu, saya memutuskan saya harus bekerja keras dan harus cermat dan rajin. Harus ! Dan seperti kau tahu Juki. Saya kemudian tinggal dirumahmu sebagai kacung. Mujur untuk saya karena ayah Juki seorang guru yang baik, saya disekolahkan. (diam)
Tapi setahun setelah saya menginjak lantai sekolah guru, Ayah Juki menunggal dan peristiwa itu memaksa saya harus magang dikantor sekolah saya sendiri, jelasmya membantu-bantu. (Jumena) halaman 42.
Dia orang yang berhasil bangkit dari kepahitan hidup, orang yang berhasil mewujudkan apa yang dia inginkan dari sebuah inspirasi seseorang .
5.      Kutipan :
“Kau simpan saja saran itu. Sudah terlalu sering orang menyampaikan pada saya. Dan saya tidak memerlukan itu.
(pause)
Sekarang saya sedang merencanakan sesuatu. Gagasan ini pasti kau sambut dengan gembira karna akan menyangkut pekerjaan kau (tersenyum lebar) saya akan membangun kembali masjid kota ini
(Sabaruddin Cuma diam ridak yakin)
Kenapa ? kau tidak percaya ? (Jumena) halaman 27
SABARUDDIN MASIH DIAM
“kau kira saya bergurau? (Jumena) halaman 27
Orang yang termasuk kedalam kategori ini lebih melibatkan sikap emosi dan perasaan. Jumena memiliki ide yang dianggap baik untuk dirinya, dan bisa ikut bahagia bila dia melakukan hal tersebut. Dia memiliki minat yang luas untuk kehidupan orang lain dan untuk aspek-aspek kebutuhan orang lain secara luas.

KESIMPULAN
Dari hasil kajian naskah Sumur Tanpa Dasar ini seorang Jumena yang di kaji secara Psikoanalisis dia lebih condong kepada teori Neuroticism yang masuk kedalam kategori reactive. Mengapa ? karena diri seorang Jumena lebih banyak dikuasai oleh kekhawatiran yang ada dalam pikirannya. Naskah ini bercerita tentang sesuatu yang absurt, pikiran Jumena yang aneh dimana ia masih bergelut dengan pikiran buruknya sementara keadaan nyata masih lebih menguntungkan dia. Seperti harta lebih yang ia miliki dan juga seorang istri muda. Mungkin ini arti dari sumur tanpa dasar yaitu pikiran gelap yang tanpa dasar.

DAFTAR PUSTAKA
Koswara, E. 1986. Teori-teori Kepribadian. Bandung : PT ERESCO
Ghufron, Nur. Risnawati, Rini.2010. Teori- teori Psikologi. Jogjakarta AR-RUZZ MEDIA
Sujanto, Agus, DKK. 2009. Psikologi Kepribadian. Jakarta : Bumi Aksara
Nurlhsan, Juntika. A. 2007. Teori Kepribadian. Bandung : SPS UPI dan PT Remaja Rosdakarya
Sarwono Wirawan Sarlito. 19444. Psikologi Lingkungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blog Template by BloggerCandy.com