Jumat, 09 Desember 2011

Tugas Take Home 1



KAJIAN PUISI INDONESIA HUJAN  BULAN JUNI SECARA STRUKTURAL

Oleh :
Vivie Elvira Sunaryo



A.    Pendahuluan

Perkembangan dunia sastra khususnya puisi di Indonesian telah mengalami berbagai masa atau zamannya. Pada setiap zamannya puisi terlihat berbeda bila dilihat dari jenis atau bentuknya. Hal ini disebabkan oleh perkembangan zaman selama puisi itu tercipta melalui proses kreatif penyairnya.
Puisi secara harfiah dapat diartikan sebagai ungkapan batin seorang penyair melalui kata-kata yang dituangkan lewat tulisan dengan gaya dan ungkapan tertentu. Setiap gaya penyair dalam menciptakan karyanya berbeda satu sama lainnya. Oleh karena itu, di dalam memahami suatu karya sastra khususnya puisi kita dapat menyeragamkan makna yang terkait dalam puisi tersebut. Dalam hal ini tentunya kita tidak memahami sebuah puisi tanpa metode atau pendekatan terhadap puisi tersebut.
Pendekatan struktural adalah suatu metode atau cara pencarian terhadap suatu fakta yang sasarannya tidak hanya ditujukan kepada salah satu unsur sebagai individu yang berdiri sendiri di luar kesatuannya, melainkan ditujukan pula kepada hubungan antar unsurnya.  Struktural merupakan keseluruhan yang bulat, yaitu bagian-bagian yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar struktural itu.
Pendekatan struktural yaitu suatu metode atau cara pencarian terhadap suatu fakta yang sasarannya tidak hanya ditujukan kepada salah satu unsur sebagai individu yang berdiri sendiri di luar kesatuannya. Analisis struktural merupakan tugas prioritas atau tugas pendahuluan. Sebab karya sastra mempunyai kebulatan makna intiristik yang dapat digali dari karya itu sendiri.
Pendekatan struktural yang dipergunakan, akan menghasilkan gambaran yang jelas terhadap diksi, citraan, bahasa khias, majas, sarana retorika, bait dan baris, nilai bunyi, persajakan, narasi, emosi, dan ide yang digunakan dalam menulis puisinya. Apresisasi yang disebutkan di atas merupakan proses kreatif seseorang terhadap karya sastra khususnya puisi. Tentunya bentuk lain dari apresiasi yang diciptakan oleh penyair dan musisi adalah bentuk mengembangkan apresiasi puisi di masyarakat agar dinikmati dan dipahami. Ada pun yang akan penulis teliti dari bentuk apresiasi di atas yaitu musikalisasi puisi.
Puisi Hujan Bulan Juni , merupakan karya Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono . Beliau merupakan seorang pujangga terkemuka di Indonesia dengan puisi-puisi yang menggunakan kata-kata sederhana. Sajak-sajaknya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa daerah.
Beberapa puisinya sangat popular dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari.  Dalam sub bab selanjutnya akan dibahas tentang analisis striktural dari puisi Sapardi Djoko Damono “Hujan Bulan Juni”.

Hujan Bulan Juni



Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu



Tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu



Tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

                                              Sapardi Djoko Damono, 1991

Struktur Fisik Puisi

1.      Diksi (pemilihan kata)

a.       Pembendaharaan kata

            Puisi yang kita kaji ini adalah puisi tertulis, maka kedudukan kata itu sendiri sangat menentukan makna. Penyair seringkali memilih kata-kata yang khas yang maknanya hanya dapat dipahami setelah menelaah latar belakang penyair. Diksi yaitu pilihan kata sebagai simbol, hal ini karena bukan makna yang sebenarnya.
            Pada puisi “Hujan Bulan Juni”, Sutardji begitu lihai mengelaborasikan kata-kata sederhana menjadi sebuah gambaran nyata akan tragedi dan penderitaan. Ia tidak lagi bertahan pada gaya bahasa personifikasi untuk mendapatkan pengucapan puitik, tetapi memang jelas dalam puisi ini penggunaan kata personifikasi digunakan. Puisinya kebanyakan berisi perenungan mendalam akan sesuatu. Dalam puisi “Hujan Bulan Juni” disamping terdapat beberapa pilihan kata yang digunakan oleh pengarang yang sangat sederhana seperti yang dapat dilihat dalam puisi tersebut. Kata-kata yang digunakan penyair mudah dipahami.
b.      Urutan Kata (Word Order)



Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Susunan kata-kata diatas tidak dapat dirubah walaupun perubahan itu tidak mengubah makna. Sutardji telah memperhitungkan secara matang susunan kata-kata itu. Jika diubah urutannya maka daya magis kata-kata itu akan hilang. Jika kalimat /Tak ada yang lebih tabah/ diganti dengan /ada yang tak lebih tabah/ maka nada sedih dari sebuah arti penantian akan berkurang.
Demikianlah urutan kata-kata dalam puisi yang disusun secara cermat oleh penyair. Jika urutannya diubah, maka akan tergantung keharmonisan komposisi kata-kata itu. Disamping itu, urutan kata-kata juga mendukung perasaan dan nada yang diinginkan penyair. Jika urutan katanya diubah, maka perasaan dan nada yang ditimbulkan akan berubah pula.

c.       Daya Sugesti Kata-kata

Dalam menggunakan kata-kata pada baris petama dan kedua /tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni/  pembaca akan lebih mudah mengetahui makna sebenarnya dalam puisi tersebut.
Baris ke tiga dan ke empat kata-kata /Pohon berbunga/  dimaksudkan pada sesuatu yang indah bagi orang yang menanti dengan tabah. /Dirahasiakannya rintik rindunya/ menunjukan bahwa dia rindu pada pohon berbunga tetapi rindu itu hanya dapat dirahasiakannya walaupun hanya sedikit, kata yang digunakan adalah pengumpamaan makna sebenarnya.
Baris ke lima dan ke enam /Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni/ menunjukan penantian yang bijak. Bijak dalam kamus bahasa Indonesia adalah selalu menggunakan akal budinya, pandai, mahir. Jadi seseorang itu menanti dengan menggunakan akal budinya.
Baris ketujuh dan kedelapan /Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu/ yang menyatakan penghapusan masa lalu yang penuh keraguan. Jejak-jejak kaki menandakan sesuatu yang lampau yang berbekas mungkin dalam puisi ini adalah sebuah memori yang diperjelas dengan baris kedelapan yaitu memori yang ragu-ragu. Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni  kembali lagi pengarang memuji penantian yaitu dengan kata arif, yang berarti cerdik, pandai dan berilmu.

2.      Citraan

Seorang penulis puisi yang baik mestilah bisa sedapat mungkin menggugah pembacanya untuk dapat seolah-olah melihat benda-benda dan warna, mendengar berbagai bunyi-bunyi, menggunakan perabanya untuk menyentuh kesejukan, mencium sejuta wangi bunga, merasakan pahit getirnya penderitaan, menangkap cita rasa haru biru perasaan yang disampaikan. Hal tersebut menjadi begitu penting karena puisi berkomunikasi dan dinikmati oleh dua sisi otak kita. Otak kanan dan kiri, yang emosional dan yang rasional. Sisi emosional dapat menangkap berbagai informasi melalui bahasa, bunyi, warna, rupa, dan rasa. Sisi ini lah yang menjadi media utama sebuah karya seni ditumpahkan.



Dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu
                                                                                          (“Hujan Bulan Juni”)

Pada baris puisi diatas Sutardji memilih kata perumpamaan yaitu bila diimajikan termasuk kedalam imaji visual (imaji penglihatan) /dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu/. Penyair ingin melukiskan imaji penglihatan rintik rindunya kepada pohon padahal maksudnya sesuatu yang indah bagi orang yang menanti dengan tabah hanya penyair lebih memilih bahasa yang lebih indah yaitu bahsa kiasan. Pada kata-kata /dirahasiakannya rintik rindu/ juga ada imaji taktil yang ingin digambarkan, maka pembaca seolah-olah merasakan sentuhan perasaan.



Dibiarkannya yang tak terucapkan

Diserap akar pohon bunga itu
                                                                          (“Hujan Bulan Juni”)

Pada baris penyair memilih kata yang beimaji visual Karena dari kata  /Dibiarkannya yang tak terucapkan/ /Diserap akar pohon bunga itu/ menggambarkan kalau penantiannya berbuah manis karena diserap oleh akar pohon bunga. Dengan memilih kata bunga sudah bisa terlihat bunga saja begitu indah maka kita membayangkan hasil yang begitu indah.

3.      Kata Konkret

Kata konkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan muncul imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Jika imaji pembaca akibat dari pengimajian yang diciptakan penyair, maka kata konkret merupakan syarat atau sebab terjadinya pengimajian itu. Dengan kata yang diperkonkretkan, pembaca dapat membayangkan secara jelas peristiwa atau keadaan yang dituliskan oleh penyair. 
Pada puisi Hujan bulan Juni kita ambil kata-kata “Tak ada yang lebih tabah” yang telah dikutip di diatas, dalam menggunakan kata-kata itu penyair  mempermudah pembaca mengetahui makna sebenarnya dalam puisi tersebut, menggambarkan ketabahan seseorang yang terus menanti sesuatu yang dinantinya. Tabah artinya tetap dan kuat hati. Jadi orang ini menanti tanpa henti dan dengan kuat walau apapun terjadi.
Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itudimaksudkan pada sesuatu yang indah bagi orang yang menanti dengan tabah.  menunjukan bahwa dia rindu pada pohon berbunga tetapi rindu itu hanya dapat dirahasiakannya walaupun hanya sedikit, kata yang digunakan adalah pengumpamaan makna sebenarnya.

4.      Bahasa Figuratif (Majas)

Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/ meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatik, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Wluyo, 1987:83). Bahasa figuratif juga disebut majas. Adapun macam-macam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anaphora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
a.       Kiasan (Gaya Bahasa)
1)      Metafora
adalah kiasan langsung, artinya benda yang dikiaskan itu tidak disebutkan. Jadi ungkapannya itu langsung berupa kiasan.
Dalam “Hujan Bulan Juni”, Sapardi mengiaskan kerinduan kepada sesuatu yang indah dengan menggunakan bahasa kiasannya itu adalah Pohon berbunga. Dirahasiakannya rintik rindunya Sapardi juga menunjukan bahwa dia rindu pada  pohon berbunga (sesuatu yang indah itu).
2)      Personifikasi
Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni” dan  “Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni”. Sapardi memberikan kata bijak dan arif pada hujan, sedangkan sebutan bijak dan arif itu diberikan kepada manusia.

5.      Verisifikasi (Rima, Ritma, dan Mentrum)

a.       Rima
Pengulangan bunyi dalam puisi. Dengan pengulangan bunyi, puisi menjadi merdu jika dibaca. Atmazaki, (1993:80), memaparkan tentang pengertian rima, seperti yang dikemukakan di bawah ini:
Rima adalah persamaan bunyi akhir kata. Bunyi itu berulang secar terpula dan biasanya terdapat di akhir sajak, tetapi kadang-kadang terdapat di awal atau di tengah baris. Dan dengan sendirinya pembicaraan rima terbatas pada sajak yang mengutamakan unsur formal sajak (bait dan baris). Rima ditandai dengan abjad, misalnya: ab-ab, cde-cde, a-a; b-b dan lain-lain.penandaan selalu dimulai dengan huruf a, dan setiap bunyi berikutnya yang berbeda ditandai dengan urutan abjad: b, c, d, e, f dan seterusnya.
Rima akhir puisi ini adalah  a-b-c-d e-b-c-d f-b-c-d



Tak ada yang lebih tabah                                        a

dari hujan bulan Juni                                                b
Dirahasiakannya rintik rindunya                            c
kepada pohon berbunga itu                                     d



Tak ada yang lebih bijak                                         e

dari hujan bulan Juni                                               b
Dihapusnya jejak-jejak kakinya                             c
yang ragu-ragu di jalan itu                                      d



Tak ada yang lebih arif                                           f

dari hujan bulan Juni                                               b
dibiarkannya yang tak terucapkan                         c
diserap akar pohon bunga itu                                  d


b.      Ritma
Ritma sangat berhubungan dengan bunyi dan juga berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat (Herman J.Waluyo : 93).
Pada puisi ini, terlihat jelas ada persamaan bunyi di setiap baris ke satu dan dua pada setiap bait.



Tak ada /yang lebih /tabah

dari hujan/ bulan Juni




Tak ada/ yang lebih/ bijak

dari hujan/ bulan Juni




Tak ada/ yang lebih/ arif

dari hujan/ bulan Juni



Pengulangan kata-kata tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni ini penyair ingin menyampaikan tentang ketabahan seseorang yang terus menanti sesuatu yang dinantinya. Tabah artinya tetap dan kuat hati. Jadi orang ini menanti tanpa henti dan denga kuat apapun yang terjadi. Tetapi dalam pengulangan kalimat ada juga dua kata yang berbeda yaitu dig anti dengan kata arif dan bijak. Ini sama, penyair juga ingin mempertegas bahwa ada yang tetap menanti sesuatu sudah dengan ketabahan, menggunakan akal budinya dan pengujian yang lebih berilmu.

6.      Tipografi

Tipografi merupakan pembeda yang penting antara puisi dengan prosa dan drama. Larik-larik puisi tidak membangun periodisitet yang disebut paragraf, namun membentuk bait.
Terlihat pada puisi ini menggunakan rata kiri, diawali dengan huruf capital dan tidak diakhiri dengan titik.

Struktur Batin Puisi
1.      Tema
Hujan Bulan Juni menunjukan simbol dari sebuah penantian. Penyampaian sebuah penantian disini ada pada kata / tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni / , / tak ada yang lebih bijak dari bulan Juni/, / tak ada yang lebih arif dari bulan Juni/. Terlihat sekali penyair lebih kepada sebuah penantian yang tetap selalu setia menanti sesuatu yang iya tunggu. Kerinduan, penghapusan masa lalu dan penantian yang berujung bahagia.

2.      Perasaan (feelling)

Dalam menciptakan puisi, suasana perasaan penyair ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca. Dalam puisi ini penyair ingin menyampaikan perasaan semangat  tidak putus asa atas penantian untuk menunggu sesuatu, juga ada kelembutan karena tidak adanya kesan memaksakan sesuatu itu harus ada , dengan adanya penggunaan kata-kata yang membuat pembaca tersentuh.

3.      Nada dan suasana

Jika nada merupakan sikap penyair terhadap pembaca, maka suasana adalah keadaan jiwa pembaca puisi itu atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca. Penyair mempunyai sikap tertentu terhadap pembaca, apakah dia ingin bersikap menggurui, menasihati, mengejek, menyindir, atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca.
Suasana dan nada yang bisa dirasakan dalam puisi ini adalah nada bahagia, karena walaupun penantian itu tidak disukai oelh banyak orang tetapi di puisi ini sebuah penantian yang berujung dengan kebahagiaan.

4.      Amanat

Amanat puisi adalah maksud yang hendak disampaikan atau himbauan atau pesan atau tujuan yang hendak disampaikan penyair. Tiap penyair bermaksud ikut meningkatkan martabat manusia dan kemanusiaan. Amanat tersirat di balik kata-kata yang disusun, dan juga berada di balik tema yang diungkapkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blog Template by BloggerCandy.com